Pernahkah Anda memperhatikan bahwa banyak organisasi terlihat “baik-baik saja” namun sebenarnya meleset dari sasaran? Meskipun ada perasaan bahwa mereka baik-baik saja—dan terkadang sangat baik—mereka tidak cukup bisa mencapai atau memaksimalkan potensi mereka. Contohnya: * Mereka tidak gesit seperti yang diharapkan * Kurang responsif terhadap kebutuhan pasar seperti sebelumnya * Ide-ide baru tidak lagi bisa di…
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa banyak organisasi terlihat “baik-baik saja” namun sebenarnya meleset dari sasaran?
Meskipun ada perasaan bahwa mereka baik-baik saja—dan terkadang sangat baik—mereka tidak cukup bisa mencapai atau memaksimalkan potensi mereka.
Contohnya:
* Mereka tidak gesit seperti yang diharapkan
* Kurang responsif terhadap kebutuhan pasar seperti sebelumnya
* Ide-ide baru tidak lagi bisa di terima dengan mudah
* Peluang hilang
* Eksekusi menjadi rumit Hal-hal tersebut memang tidak akan langsung membuat perusahaan gulung tikar esok hari, namun hal ini menyebabkan gejala perlambatan.
Beberapa organisasi terbesar dan paling terkenal banyak yang mengalami periode kelesuan.
Inilah pentingnya menghadirkan pemimpin pragmatis yang memiliki keterampilan untuk memecahkan situasi organisasi yang sedang mengalami inersia (perlambatan) ataupun sebaliknya menjadi pendorong pertumbuhan organisasi menjadi sehat.
1. Pemimpin pragmatis yang memiliki keterampilan untuk memecahkan situasi organisasi yang sedang mengalami inersia (perlambatan) ataupun sebaliknya menjadi pendorong pertumbuhan organisasi lebih sehat dan efektif dan siap mengatasi perubahan.
2. Mengembangkan pemahaman tentang konteks: Seorang pemimpin pragmatis perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang situasi, tantangan, dan peluang yang dihadapi oleh organisasi atau timnya. Tujuan ini melibatkan mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis data, dan memahami faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi keputusan dan tindakan.
3. Mengasah keterampilan pengambilan keputusan: Sebagai pemimpin pragmatis, penting untuk dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan efektif. Tujuan ini melibatkan pengembangan keterampilan analisis, penilaian risiko, dan kemampuan untuk mengevaluasi opsi-opsi yang tersedia secara obyektif.